Bondowoso.Kliksuarabaya- Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Bondowoso secara resmi membuka Pelatihan Artificial Intelligence (AI) for Content Creation dalam program Government Transformation Academy. Acara ini diselenggarakan atas kerja sama Pemerintah Kabupaten Bondowoso dengan Balai Pengembangan Sumber Daya Manusia Komunikasi dan Informatika (BPSDMP Kominfo) Surabaya di Ruang Sabha Bina Praja, Sekretariat Pemkab Bondowoso, Senin (22/06/2026).
Hadir dalam pembukaan tersebut, Kepala BPSDMP Kominfo Surabaya, Bagus Winarko, Asisten 3, Kepala BKPSDM, Kepala Diskominfo, serta jajaran Kepala Perangkat Daerah Pemkab Bondowoso, termasuk Kepala Dinas Pendidikan, Kepala Bappeda, Kepala Bakesbangpol, Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil, serta Kepala Dinas Perhubungan.
Dalam sambutannya yang diawali dengan pantun jenaka, Sekda Bondowoso menekankan bahwa digitalisasi, otomasi, dan teknologi kecerdasan buatan (AI) saat ini bukan lagi sekadar wacana atau tren, melainkan sebuah kebutuhan mutlak yang harus diadopsi dalam birokrasi.
Hari ini yang namanya IT, digitalisasi, otomasi berbasis teknologi itu bukan lagi sekadar wacana, tetapi kebutuhan. Tidak bisa tidak. Ketika kita butuh validitas data kemiskinan, kita bisa meminta bantuan AI. Termasuk memetakan kompetensi kepala sekolah, sangat bisa. Tetapi resource-nya harus disiapkan.
Pelatihan yang dijadwalkan berlangsung selama lima hari ke depan ini diharapkan dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh seluruh peserta, baik yang hadir secara luring maupun daring. Sekda menegaskan bahwa muara dari peningkatan kompetensi digital ini bukanlah sekadar mencetak pembuat konten (content creator), melainkan untuk meningkatkan kualitas, efisiensi, dan kecepatan pelayanan publik kepada masyarakat.
Sekda Bondowoso juga menginstruksikan BKPSDM dan Diskominfo untuk melakukan evaluasi menyeluruh setelah pelatihan berakhir. Pemerintah daerah tidak ingin pelatihan ini hanya menjadi agenda seremonial yang menghabiskan waktu tanpa memberikan dampak nyata (impact).
Evaluasi akan dilakukan melalui metode sampling untuk mengukur perkembangan peserta, baik dari sisi kognitif maupun keahlian (skill). Parameter keberhasilan yang ditekankan adalah adanya wujud nyata percepatan dan peningkatan kualitas layanan yang dirasakan langsung oleh masyarakat Bondowoso.
Di hadapan para ASN, Sekda secara khusus mengingatkan bahwa sehebat apa pun perkembangan AI, teknologi tersebut tidak akan pernah bisa menggantikan posisi manusia yang memiliki empati, nilai (value), dan etika.
Beliau menyoroti potensi bahaya penyalahgunaan AI, seperti rekayasa foto menjadi video manipulatif yang dapat melahirkan fitnah dan merusak karakter seseorang (character assassination). Oleh karena itu, kebijaksanaan pengguna (user) memegang peranan paling penting.
Fitnah itu jauh lebih kejam daripada pembunuhan karena ini menyangkut character assassination. Ada dua hal yang harus kita lakukan: pertama, kuasai teknologi informasi melalui aplikasi AI ini dengan baik. Kedua, manfaatkan untuk kepentingan kemanusiaan, pelayanan, dan public service. Jika digunakan dengan bijak, insyaallah ilmu dan wawasan yang kita dapatkan akan menjadi ilmu yang bermanfaat dan barokah.
Di akhir sambutan, Sekda kembali mengajak seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemkab Bondowoso untuk terus meningkatkan kompetensi diri tanpa melupakan nilai-nilai etis.
Menutup arahannya, Sekda menyampaikan pantun penutup yang menegaskan esensi kehadiran AI di lingkungan birokrasi sebelum membuka acara secara resmi dengan pembacaan basmalah.







